Liburan usai, waktunya sekolah dan mengerjakan tugas yang menumpuk lagi. Saya pikir setelah liburan tidak akan ada lagi hal yang seru tapi saya salah. Banyak teman saya yang berulang tahun dan merayakannya. Di setiap ulang tahun, kami sekelas berusaha kompak untuk datang walaupun pastilah ada beberapa yang gak bisa.
Ulangan Semester 2 dimulai, sedih bercampur senang karena saya berbeda kelas dengan Dian, Micha, dan Nifa. Saya yang biasanya bekerja sama dengan Dian, harus menepati janji tahun lalu yaitu tidak menyontek saat ulangan. Hasilnya saya bekerja sendiri di Ulangan Semester 2. Senangnya, karena saya kembali menjadi pribadi saya saat SMP yaitu tidak menyontek saat Ulangan. Saya bersyukur ulangan berjalan lancar. Oh ya, saat Ulangan Tengah Semester 2 kacamata saya patah lagi. Apes memang, setiap ulangan kacamata saya mungkin tegang haha. Saat di satu pelajaran ulangan, saya bingung mau menjawab apa dan memainkan kacamata saya. Krekk, suara patahan kacamata. Dengan panik dan blank, saya memberi tahu teman saya dan segera menyelesaikan ulangan. Pulang sekolah, saya segera ke rumah Aifah dan pergi ke optik bersamanya. Ternyata kacamata saya gak bisa diperbaiki. Dengan sedih, saya pergi dan singgah membeli lem Alteco dan me-lem kacamata saya di rumah Aifah. Sekalian makan, belajar, nonton di rumahnya.
Kemudian kesibukan lain yaitu persiapan Pentas Seni atau Pensi sekolah yang diadakan setelah Ulangan Semester 2. Di tengah kesibukan mengerjakan tugas dan belajar untuk ulangan, kami harus latihan. Pensi di sekolah saya mungkin berbeda dibeberapa sekolah. Di Pensi kami itu layaknya Ujian Praktek untuk nilai Seni Budaya. Kelas 10 memperagakan tari per kelompok sedangkan kelas 11 paduan suara per kelas. Saya ingat tahun lalu saat kelas 10 yaitu kelompok saya menarikan tarian tradisional Papua dan tentunya kami harus mengenakan baju adat Papua. Kami sangat berbeda di antara yang lain. Banyak yang memperhatikan dan membicarakan kami, tapi saya sendiri tidak peduli masalah itu. 'Cause I love being unique. Untuk tahun ini, sayangnya tidak ada kelompok tari yang unik seperti kelompok saya tahun lalu.
Kami berlatih paduan suara agak kacau. Karena ada beberapa orang yang kadang tidak hadir latihan atau pun susah diatur. Belum lagi kami latihan koreografi sehari sebelum pentas! Untung saja koreografi tersebut tidak jadi digunakan karena panggung yang agak kecil untuk kami berpuluh orang. Tepat sebelum Pensi dan Ulangan, kami sempat penggalangan dana untuk biaya seragam Pensi. Kami menjual roti bakar, gorengan, puding, dsb. Saat pensi, kami mengenakan seragam yang keren dan beda.
Kami berada diurutan awal untuk Paduan Suara. Setelah gladi bersih, kami segera berganti pakaian di kelas. Tentunya gantian dengan perempuan yang menggunakan kelas pertama. Di atas panggung, kami mengeluarkan seluruh kemampuan kami dan berjalan lancar. Setelah itu, kami melakukan hal yang penting yaitu berfoto ria. Khusus untuk perempuannya, kami berfoto di Studio. Awalnya kami mengajak anak laki-laki, tapi beberapa di antara mereka sibuk. Jadilah hanya perempuan yang berfoto bersama. Selasai berfoto studio, saya pamit pulang sedangkan teman saya yang lain kembali ke sekolah untuk menonton pertunjukan Pensi yang masih berlangsung.
Pensi selesai dan ternyata masih ada satu tugas yang belum selesai, yaitu KIMIA. Memang tugas kimia paling menumpuk di antara tugas lainnya. Kami anak Essence, tetap ke sekolah untuk mengerjakan tugas dan atau hanya ngumpul saja. Hanya ada sedikit anak yang datang ke sekolah saat itu. Keesokan harinya, teman-teman saya berkunjung ke salah satu Pantai. Sayangnya saya tidak bisa ikut karena saya dilarang oleh orang tua. Takut terjadi apa-apa apalagi saat itu minggu akhir sekolah.
Beberapa minggu kemudian, tepatnya tanggal 25 Juni 2016 kami sekelas naik ke kelas 12. Saya pikir semua teman saya akan datang, ternyata banyak dari mereka telah mudik lebaran. Saya bersyukur bisa sekelas dengan teman-teman saya. Walau pun ada hal yang buruk, memalukan, menyebalkan, dan menyedihkan terjadi banyak juga hal menyenangkan dan kebersamaan yang menutup hal-hal buruk. Terima kasih, Essence alias XI IPA 2 ❤
Senin, 04 Juli 2016
Kehidupan Kelas 11: Bagian 6
Kehidupan Kelas 11: Bagian 5
Setelah libur panjang, tugas dan pelajaran menghampiri. Beberapa guru mulai berubah bukan orangnya namun sikapnya yang lebih tegas. Oh ya, di semester 2 ini banyak libur. Dikarenakan kakak kelas 12 yang ujian. Liburan saya dan teman-teman tidak dihabiskan di rumah saja tetapi dengan jalan-jalan ria!
Setelah diskusi yang panjang dan menghubungi salah satu penjual tiket Trans Studio, kami sempat ragu karena harga tiket yang tidak sesuai harapan. Namun karena malu apabila membatalkan rencana yang sudah dibuat sejak lama juga kasihan dengan salah satu teman kami yang menghubungi penjual tiket tersebut akhirnya kami memutuskan untuk pergi berlibur ke Trans Studio, yey!
Total yang pergi adalah 13 orang, dimana dua di antara kami naik kendaraan pribadi sedangkan sisanya naik bus. Setelah menentukan titik pertemuan di salah satu halte bus, kami menunggu bus hampir 40 menit yang tak terasa karena obrolan yang panjang. Di bus, salah satu teman dekat kami bernama Puput yang adalah penggemar berat hal-hal Korea baru pertama kali naik bus dan ia merasa seperti di Korea. Ada-ada saja. Kami menaiki dua bus yang mana untuk ke bus selanjutnya singgah di halte salah satu Mall. Perjalanan kami hampir memakan waktu 2 jam.
Tibalah kami di Trans Studio yang ternyata belum dibuka, kira-kira 3 menit kemudian barulah dibuka dengan kami sebagai pengunjung pertama. Wahana Trans Studio belum sepenuhnya dibuka, jadi kami juga menunggu 2 teman kami yang belum sampai. Ya dan lagi kejadian unik terjadi, yaitu kami diwawancarai oleh staff Trans Studio dimana teman saya mendorong saya untuk menjawab pertanyaannya. Seperti diwawancarai gitu deh.
Setelah lengkap, kami pun masuk dan memulai di wahana Putar-Petir, dilanjutkan dengan Dunia Lain, Roller Coaster, Dragon Tower, Giant Swing, Jelajah, dsb. Yang paling mencengangkan menurut saya, yaitu naik Giant Swing sebanyak tiga kali! Tapi tidak semua yang menaikinya tiga kali. Kami mencoba hampir seluruh wahana. Tak lupa juga berfoto ria.
Sebagai pelajar dengan kantong pas-pasan, kami mengumpulkan uang dan membeli bakwan 3 biji seharga 10 ribu! Sangat mahal, bukan? Entah berapa piring kami beli yang sebagian ditraktir oleh teman saya yang berkantong tebal. Setelah puas bermain, kami memutuskan untuk pulang sekitar jam 4 sore.
Di perjalanan pulang, salah satu teman saya gak enak badan. Lain saat perjalanan ke Trans Studio, dimana kami heboh dan ribut. Di perjalanan pulang kami diam dan kecapean. Saya merem dan kebetulan sambil mendengar lagu yang tak sadar saya ikut bernyanyi tanpa mengeluarkan suara alias lipsync. Teman saya menertawai tingkah saya, agak menyebalkan memang tapi gak apa-apalah.
Beberapa minggu kemudian, tepatnya saat kelas 12 mengikuti Ujian Nasional, kami berombongan kembali berlibur namun ke tempat lain yaitu Bugis Waterpark. Wahana air dan kolam renang yang seru. Namun dua anggota kami tidak ikut yaitu Dian dan Ila. Namun bertambah beberapa anggota baru. Kami semua naik sepeda motor ke lokasi.
Sebelumnya kami telah membeli tiga voucher masuk 150rb/voucher yang jika dihitung per orang membayar 30rb. Pikir kami lumayan. Setelah sampai di lokasi dan menukarkan voucher ternyata ada syarat dan ketentuan yang kami tidak baca. Betapa cerobohnya namun karena sudah siap dan tak mungkin untuk pulang, akhirnya kami kembali patungan dan masuk ke Bugis Waterpark, yey!
Ada pemeriksaan barang yang ekspektasi kami sangat ketat, ternyata tas kami hanya dipegang untuk memastikan tidak ada kemasan makanan. Kami berhasil masuk dan betapa senangnya saya bertemu teman saya di seleksi Bina Antarbudaya tahap 2 dan 3 yang bernama Yuni. Sayangnya ia tidak lolos tahap 3, namun kami masih saling kontak. Setelah hampir setahun tidak ketemu, akhirnya kami reuni tak terduga di tempat itu. Saya jadi gak enak mengacangi teman-teman saya, akhirnya saya pamit dan berkumpul dengan teman saya kembali.
Kami masuk kira-kira pukul 10 pagi dan segera mencoba semua wahana yang dibagi beberapa waktu. Wahananya seru dan mendebarkan. Saat jam 12 siang, saya kelaparan. Kebetulan uang kami semua ludes karena harus menambah biaya masuk. Untungnya saya membawa mie goreng yang saya bawa dari rumah tanpa ketahuan. Maaf. Saya mengajak Aifah untuk menemani saya karena yang lain sibuk. Jadinya hanya kami berdua yang makan itu pun Aifah hanya makan sedikit. Setelah selesai kami melanjutkan bermain air dan sempat berbicara dengan Ibu-ibu yang berlibur dengan anaknya. Kami mengobrol dan saya sempat menawarkan kepada Ibu itu untuk mendaftarkan anaknya yang tengah dibangku kelas 1 SMA untuk mengikuti seleksi Binabud hehe.
Tak lama kemudian hujan turun. Kami semua singgah bertepi dan mengobrol namun setelah reda kami kembali berenang. Di wahana selanjutnya sekitar jam 2 atau 3 siang, saya, Maul, dan Aifah mencoba wahana agak ekstrim. Yaitu luncuran tertinggi tanpa menggunakan ban! Saat sebelum meluncur ternyata ada banyak orang yang ragu dan takut untuk meluncur, termasuk kami bertiga. Awalnya saya gak mau tapi Maul dan Aifah membujuk saya. Jadilah saya mengatakan saya yang akan meluncur pertama dan pada akhirnya saya yang meluncur terakhir di antara mereka berdua. Cukup memakan waktu untuk meyakinkan saya turun dengan luncuran tersebut, tapi karena tidak ingin tertinggal sendiri atau harus turun dari puluhan anak tangga, akhirnya saya meluncur dan disambut oleh Maul dan Aifah di bawah.
Setelah puas menaiki wahana dan berenang, kami memutuskan untuk menyelesaikannya. Sebenarnya, masih ada satu wahana yaitu wahana ombak dsb, tapi salah satu dari teman kami gak enak badan (lagi) akhirnya kami yang cewek mandi dan ganti baju lalu pulang. Sedangkan yang cowok melanjutkan berenang di wahana ombak. Saat pulang ternyata hujan deras, makanya kami menunggu beberapa saat dan menyempatkan untuk berfoto. Di perjalanan, hujan rintik menemani. Saya saat itu bergoncengan dengan Puput. Kami mengobrol di tengah perjalanan dan memutuskan untuk singgah di warung favorit kami yang makanannya enak dan murah meriah. Sayangnya, setelah pulang kami berpencar. Jadilah hanya saya berdua yang makan dengan Puput. Setelah makan saya mengantar Puput ke rumahnya yang tak jauh dari warung makan tersebut. Kami sampai jam 5 sore, menjelang maghrib saya pamit pulang ke Puput dan Ibunya karena saya akan sendiri di rumah dan takut pulang saat gelap. Saat saya sampai di rumah, tak berapa lama Ibu saya datang dan paket kiriman JNE yang saya pesan telah sampai. Senangnya.
Sampai jumpa di bagian berikutnya!
Minggu, 03 Juli 2016
Kehidupan Kelas 11: Bagian 4
Beberapa hari sebelum Porseni diadakan rapat kelas untuk menentukan baju kelas juga nama kelas. Nama 'Essence' usulan Nifa terpilih yang kepanjangannya adalah 'Exclusive Class of Science'. Memang kami tidak menulis angka dari kelas kami. Alasannya beragam mulai dari tidak ingin mainstream dan menganggap kelas kami berbeda. Sempat ada masalah ketika pemilihan warna baju kelas. Kubu hawa memilih warna biru Navy sedangkan kaum adam memilih warna hitam-putih. Tapi dengan pasrah kaum adam harus mengalah. Jadilah baju kami yang ternyata warnanya banyak digunakan oleh kelas lain. Kami tidak masalah dengan itu, toh ini hanya sebagai identitas kelas.
Setelah bertahun-tahun sekolah, saya baru merasakan kelas yang kompak. Bisa dibilang paling kompak dibanding kelas saya sebelumnya. Dengan kekompakan kami, kelas XI IPA 2 meraih beberapa kemenangan di ajang Porseni Sekolah 2015. Walau pun gak menjadi juara umum namun itu sudah membuat kami bahagia. Liburan semester pun dimulai yang berlangsung hingga tahun baru 2016.
Tgl 19 Desember 2015 merupakan ulang tahun saya ke 16. Bisa dibilang hari itu ulang tahun yang cukup baik dan buruk. Saya sudah menabung dan orang tua saya memberi uang agar saya bisa merayakannya. Hari itu hujan sepanjang hari, mulai dari gerimis sampai deras. Tapi semangat saya tidak menghalangi. Pagi hari saya sudah membeli kue ulang tahun dan beberapa makanan. Banyak teman-teman yang saya undang juga keluarga. Saya menunggu dari pagi sampai sore hanya teman orang tua dan beberapa keluarga saya yang datang. Batang hidung teman saya belum ada yang muncul. Menjelang sore, dengan kesal dan sedih saya segera memakan pizza dengan adik sepupu saya. Rasanya sudah pasrah dengan makanan yang banyak tapi kekurangan manusia untuk menghabiskannya.
Tak lama kemudian, empat orang teman saya datang yaitu Micha, Aifah, Agatha, dan Maul. Memang Dian dan Nifa juga teman lain tidak dapat hadir karena hujan yang deras serta rumah saya yang memang jauh dari sekolah dan rumah teman-teman saya (8 km). Tapi dengan kedatangan mereka sudah lebih dari cukup. Kami berbincang, nonton, makan, dan tertawa bersama. Baru kali ini saya berulang tahun dan mengundang teman sekolah saya. Di ulang tahun sebelumnya, pasti hanya bersama keluarga atau bahkan tidak dirayakan. Tak lama banyak keluarga yang datang sampai-sampai makanannya pun hampir tidak cukup. Di ulang tahun kali ini saya belajar, segala hal memang tidak bisa diprediksi dan terimalah apa yang terjadi karena bisa jadi itu adalah yang terbaik. Orang-orang yang datang juga berusaha yang terbaik untuk hadir. Semoga saya masih diberi umur yang panjang oleh Allah dan dapat merasakan bagaimana keadaan-keadaan ulang tahun saya yang selanjutnya.
Sampai jumpa di bagian selanjutnya!
Jumat, 01 Juli 2016
Kehidupan Kelas 11: Bagian 3
Setelah selesai berurusan dengan organisasi, saya sempat dilema karena bingung dan agak sedih. Saya sedih bukan karena selesai dengan organisasi tersebut, tapi karena merasa berbeda. Yang dulunya lama pulang sekolah, menjadi seperti siswa biasa. Tapi keuntungannya, saya lebih banyak belajar di rumah, belajar kelompok di rumah teman, atau bahkan jalan-jalan.
Minggu ketiga kelas 11, nama kelas kami diubah menjadi XI IPA 2. Lebih tepatnya bertukar dengan kelas XI IPA 1 sekarang karena wali kelas kami yang adalah guru Biologi tidak dapat mengajar di kelas XI IPA 1. Dengan terpaksa, kami bertukar roster atau jadwal pelajaran dengan kelas sebelah dan konsekuensinya harus berganti nama. Tapi jujur kelas XI IPA 2 tetaplah terbaik dan melekat di diri anak IPA 2.
Di pertengahan semester 1, saya kembali sibuk dengan pengurusan berkas AFS-YES serta bolak-balik rumah sakit untuk keperluan vaksinasi. Membuat saya harus izin beberapa kali yang terkadang melewatkan event-event seru di sekolah. Tidak lama kemudian semester 1 berlalu. Enam bulan terasa singkat dan tentunya Ujian Semester harus ditemui.
Saya teringat dengan perjanjian untuk 'tidak menyontek' atau saling berbagi jawaban dengan teman bangku saya. Kecuali di pelajaran tertentu seperti kimia dan fisika. Lucunya adalah Dian, teman bangku saya dengan wajah yang serius berjanji tidak akan membuat saya melihat jawabannya apalagi sebaliknya. Tapi saat ulangan Mandarin, Sejarah tampaknya perjanjian itu hancur karena kami saling berbagi jawaban. Tentunya tanpa sepengetahuan guru. Tidak hanya dengan Dian, dengan yang lain pun begitu.
Akhirnya semester 1 dilalui dan perjanjian untuk 'tidak menyontek' itu hanya ucapan belaka. Tidak bisa dipungkiri, pelajaran kelas 11 memang sulit. Tapi dengan teman-teman yang asik rasanya pelajaran itu mudah dan terlupakan *eh bercanda.
Satu tambahan lagi, kacamata saya patah saat Ujian Semester ini. Di Ujian Semester 1, kami masuk siang. Nah saat pagi hari, saya sedang asik menonton TV sambil me-review pelajaran untuk ulangan hari itu. Saat saya duduk di sofa dan melepas kacamata saya dengan agak kasar, framenya jatuh dan patah. Agak bersyukur, hari itu adalah hari terakhir Ujian Semester. Dengan mata yang kabur (-3,75) tanpa kacamata saya dengan santainya masuk sekolah. Mungkin beberapa orang melihat saya berbeda tapi saya cuek. Penglihatan saja kabur. Datanglah teman sekelas saya di kelas X-2 yang sekarang duduk di kelas XI IPA 1. Dia membantu saya ke kelas. Haduh, merasa seperti orang apa saja. Tetapi keesokan harinya, Ibu saya menemani saya ke Optik untuk memotong kaca lensa kacamata saya dan dipindahkan ke frame baru dari Tante saya. Saat Porseni, yakni setelah Ujian Semester 1 berakhir, saya dengan kerennya datang dengan kacamata baru. Banyak yang bilang saya lebih cocok dengan frame baru saya. Alhamdulillah, tingkat kekerenan saya bertambah.
Sampai jumpa di bagian berikutnya.
Kamis, 30 Juni 2016
Kehidupan Kelas 11: Bagian 2
Selamat tinggal kehidupan organisasi sekolah! Benar sekali, di kelas 11 saya meninggalkan organisasi dan membangkitkan ekstra-kurikuler klub Bahasa. Tapi dicerita ini saya akan lebih fokus tentang pertemanan dan kelas saya.
Grup kami terbentuk dan bernama "So' Sodara" anggotanya adalah Nisa yaitu saya sendiri, Dian yaitu teman bangku dan sahabat yang beberapa kali telah saya ceritakan, Micha yaitu anak yang bersuara emas tapi pemalu #merah, Maul yaitu anak baru di semester 2 kelas 10, Aifah yaitu anak yang blak-blakan tapi aslinya baik juga GPS kami, dan terakhir Nifa yaitu teman se(eks)organisasi saya yang dulunya pendiam.
Nama So' Sodara sendiri merupakan plesetan dari makanan terkenal dari kota kami yaitu Sop Saudara. So' juga berarti sok yang diambil karena kami berlima selalu mengejek Nifa yang memiliki bulu mata yang lebat seperti 'sok panjang bulu mata kamu'. Sedangkan Sodara berarti saudara. Entah bagaimana kata So' Sodara tergabung dan terbesit tapi nama itu melekat sampai sekarang.
Saya ingat saat awal kelas 11, Nifa selalu membawa tabletnya ke sekolah. Tablet dia berisi banyak games salah satunya Slendrina. Game Slendrina ini memiliki banyak jenis. Ada yang The House, The Cellar, Asylum, dsb. Waktu itu kami kecanduan game Slendrina. Lebih tepatnya saya yang kecanduan main game itu. Setiap istirahat, saya dan kelima anak ini dan terkadang teman lain ikut menyaksikan saya yang berjuang melawan Slendrina di tablet. Lucu sih, karena saya tipe orang kagetan ketika bermain game apalagi Slendrina muncul begitu saja. Kami bahkan memiliki video ketika saya bermain game Slendrina. Saya telah menamatkan game Slendrina, Slendrina The Cellar, Slendrina The House kecuali Slendrina Asylum. Kenapa? Karena di Asylum terdapat Ibu Slendrina yang bisa membuat pemain game over apabila tertangkap dan tercabik-cabik. Tapi karena saya orang yang kepo, saya mencari ending dari Slendrina The Asylum lewat Youtube. Sekarang saya sudah bisa tidur dengan tenang.
Kemudian masa-masa SMA yang saya inginkan bisa tercapai! Yaitu berjalan-jalan bersama teman-teman saya ini. Mungkin kedengaran hedon, tapi kami hanya benar-benar jalan tanpa membeli apa pun! Kami mengunjungi salah satu Mall besar di kota kami. Yang kami lakukan adalah bermain es skating dan makan siang itu pun hanya kentang goreng dan minuman di restoran paling murah di Mall itu. Apa yang penting bukan apa yang dibeli atau dilakukan disana tapi kebersamaan yang membuat pertemanan ini semakin tumbuh dan erat.
Sampai jumpa di bagian berikutnya!
Rabu, 29 Juni 2016
Kehidupan Kelas 11: Bagian 1
Banyak yang bilang, masa-masa SMA yang paling seru ada di kelas 11. Kenapa? Karena di kelas 10 adalah masa adaptasi, peralihan masa SMP yang sangat labil ke masa SMA yang (masih) labil. Yaa walau pun ada beberapa yang stabil. Sedangkan masa kelas 12 adalah masa fokus UN, SNMPTN, SBMPTN, dan ujian yang lain. Saya sih belum merasakan kelas 12 seperti apa. Saya kan baru saja naik kelas. Maka dari itu saya sangat setuju dengan pendapat 'Kelas 11 adalah masa yang paling seru' bila dibandingkan dengan kelas-kelas sebelumnya. Baiklah, inilah cerita masa kelas 11 saya yang baru saja selesai.
Hari pertama sekolah di kelas 11, saya gak langsung ke kelas XI IPA 1 (Dulunya kelas saya) melainkan ke kelas gugus kuning (saya lupa nama gugusnya, duh). Iya, saya saat itu menjadi panitia MOS SMA saya. Saya sempat singgah sebentar ke kelas untuk melihat bangku saya. Betapa bersyukur dan bahagianya diri saya waktu itu, saya tidak lagi duduk di belakang dan kesulitan melihat apa yang ditulis oleh guru di papan tulis. Saya duduk di bangku baris kedua dan kembali bersama sahabat saya yang ialah teman bangku saya saat peskil dan kelas 10. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, saya telah membuat teman bangku saya berjanji untuk duduk kembali bersama saya di kelas 11 apabila kami satu kelas. Akhirnya dengan terpaksa haha bercanda, dia menepati janjinya dan kembali duduk bersama saya. Singkat cerita, bangku saya itu sangat strategis. Selama 3 hari pertama sekolah, saya tidak bisa berdiam di kelas karena menjadi panitia MOS. Jadi di 3 hari itu, banyak yang ingin duduk di bangku saya, sampai bermohon-mohon kepada teman bangku saya! Tapi sebagai teman yang baik, dia menjaga bangku saya dan tidak ada yang boleh menempati bangku itu selain saya.
Minggu kedua sekolah dimulai, waktu belajar aktif telah dimulai. Saat itu, saya hanya mengenal beberapa teman sekelas saya yakni teman kelas 10. Setiap tahun khusus kelas 10 ada pe-rolling-an kelas. Karena saya tipe anak mager yang lebih suka berdiam di kelas, jadi saya hanya mengenal sebatas teman kelas saya. Hasilnya saya tidak kenal bahkan baru melihat wajah-wajah baru di kelas kala itu. Kebetulan, dua anak yang dulunya sekelas dengan saya duduk di depan bangku saya. Sejak saat itu saya jadi akrab dengan mereka. Juga satu anak yang lumayan akrab dengan saya, menjadi lebih akrab kembali. Jadilah kami kelompok ex X-2.
Dengan anak berempat tadi, saya jadi sering istirahat dan ngobrol dengan mereka. Kemudian ada satu anak yang merupakan teman se-organisasi saya. Saya hanya sebatas dekat dan kenal dengan dia. Sayangnya, saat itu dia anak yang agak pendiam dan kurang memiliki teman. Setidaknya itu yang kami lihat dari luarnya. Jadilah dengan bujukan teman-teman saya, saya mengajaknya bergabung. Apalagi saat itu ada kerja kelompok yang terdiri dari enam orang. Kami segera menjadi satu kelompok dan mulai membuat grup Line yang terbentuk tanggal 19 September 2015. Awal permulaan keakraban kami yang semakin membuat kelas 11 terasa seru dan berwarna.
Sampai jumpa di bagian selanjutnya!
Minggu, 26 Juni 2016
Kehidupan Kelas 10 : Bagian 3
Memasuki semester 2, kurikulum di sekolah saya diubah menjadi KTSP. Senang banget karena jadwal pulang menjadi lebih cepat (tapi percuma rapat organisasi setiap hari) dan pelajaran matematika berkurang. Kekurangan KTSP lebih banyak dibanding K13 yaitu tidak adanya jurusan di kelas 10 membuat pelajaran bertambah, PR numpuk, mencatat yang membuat siswa kurang aktif, dsb.
Di semester ini, saya mulai dekat dengan beberapa teman kelas khususnya di deretan bangku saya. Mereka sering menjadikan rumah saya sebagai tempat membuat praktikum, belajar kelompok, makan-makan. Padahal rumah saya dan sekolah cukup jauh yaitu sekitar 8 km. Kalau kalian bertanya kenapa saya sekolah di SMA saya, tolong baca Awal Mula Masuk SMA di post sebelumnya.
Di semester ini pula, saya sudah mengunjungi rumah teman-teman saya. Mungkin kalian berpikir itu hal yang biasa, tapi menurut saya mengunjungi rumah teman adalah hal yang baik. Saya senang karena akan mudah untuk kembali bersilaturahmi dengan teman-teman apalagi ketika sudah lulus SMA. Sayangnya, kesibukan organisasi membuat waktu saya terkuras. Saya menjadi tidak seperti beberapa anak remaja pada umumnya yang bebas jalan-jalan ke Mall yang terkadang membuat saya sedikit cemburu. Tapi lupakan masalah itu.
Hal terpenting yang mengubah hidup saya adalah mengikuti seleksi Bina Antarbudaya . Ini terdengar berlebihan, tapi mungkin jika saya tidak mengikuti seleksi tersebut, saya akan menyesal. Tetapi Alhamdulillah, saya mengikuti seleksi tersebut dan lolos sampai tahap akhir.
Teman bangku saya adalah satu-satunya teman yang sangat mendukung saya. Dia yang menulis surat rekomendasi 'Teman Dekat', membantu saya berlatih wawancara, mendengarkan ribuan curhatan saya dan apa yang telah saya lakukan setelah seleksi selesai. Saya sangat berterima kasih kepada teman bangku atau sahabat saya itu. Masa-masa kelas 10 saya mungkin kurang seru, tapi tanpa masa tersebut saya tidak akan bisa menjadi pribadi yang sekarang. Sifat-sifat SMP saya seperti manja, boros, pemurung mulai perlahan berubah menjadi mandiri, hemat, dan mulai ceria. Untuk teman kelas 10, kita memang terpecah belah menjadi beberapa grup. Tapi di sisi lain kita bisa kompak. Walau pun masa-masa itu ada permasalahan serius yang terjadi, ingatlah itu adalah salah satu proses untuk menuju kedewasaan. Jangan lupakan satu sama lain, karena di masa depan kita akan berkumpul menceritakan cerita sukses masing-masing.
Balada SMP
Ikat rambut kepang dua, putih-biru, cupu, belajar, buku, anime, games, facebook, TV.
Itu hal inti yang menjelaskan kehidupan SMP saya. Makanya saya belum mau bercerita panjang lebar kehidupan SMP saya. Tapi kali ini saya akan menceritakan satu hal.
Saya ingat masa-masa kelas 8 yang super seru. Saya memiliki beberapa sahabat atau teman dekat yang asik dan salah satunya (sampai sekarang masih kontak dengan saya) adalah tempat curhat saya. Langsung saja, waktu itu adalah gempar-gemparnya fanpage (fp) facebook role-player. Buat yang gak tau apa itu role-play, jadi di fp itu sarana bertemu dengan teman facebook dimana kita memiliki karakter masing-masing diambil dari anime atau pun karakter buatan sendiri. Misalnya saya menggunakan karakter 'Hinata', jadi seakan-akan saya menjadi 'Hinata' di fp tersebut baik karakteristik dan nama panggilan. Saya dan teman dekat saya bergabung di salah satu fp yang cukup seru. Entah cepat atau lambat, kami baru tahu bahwa pemilik fp itu adalah teman satu sekolah kami sendiri yang mana merupakan anak baru di kelas lain. Kami gak nyangka dan bagaimana agar kami bisa berteman dengan dia ternyata lewat fp itu sendiri. Akhirnya setiap istirahat, saya dan teman dekat saya selalu memanggil sang pemilik fp dengan nama role-play dia dari kelas. Kami memanggil nama role-play dia sambil teriak dan ketika dia berbalik, kami langsung sembunyi. Fyi, pemilik fp ini cowo. Jadi kami mungkin saat itu masih malu-malu kucing untuk berbicara langsung. Sampai sekarang kita masih kontak. Namun sudah tinggal di pulau yang berbeda. :')
Masa SMP memang masa-masa labil dan polos. Peralihan dari anak-anak ke remaja. Jadi masih wajar untuk banyak kepo. Hey, if you guys who I tell about read this, well I miss our fp and people from our fp. Please, stay in touch! . ☺
Kehidupan Kelas 10: Bagian 2
Masa putih abu-abu resmi dimulai. Gak terasa, saya sudah beranjak remaja saat itu (sampai sekarang masih remaja juga sih). Masa dimana beradaptasi dengan tempat, orang-orang, suasana baru. Khususnya dengan teman dan guru. Juga penyesuain diri dengan pelajaran yang semakin berat ditambah beberapa guru killer.
Sayangnya, di awal kelas 1 saya masih menjadi seorang 'anime freak' atau anak yang kecanduan nonton anime. Gak tanggung-tanggung, pernah saya menonton anime lewat handphone saya ketika seorang guru menjelaskan. Saya sih biasa saja karena saya kan duduk di bangku paling belakang *JANGAN DITIRU* tapi teman bangku saya yang rese-suka belajar-serius ini malah memarahi saya sambil bisik-bisik. Akhirnya saya hanya menonton setengah episode namun melanjutkannya saat jam istirahat.
Karena masih kelas 1, gak tanggung-tanggung banyak organisasi yang mempromosikan dengan menggiurkan. Sampai-sampai saya mengikuti 3 organisasi besar dan akhirnya keluar dari kedua organisasi tersebut, duh.
Nah, satu organisasi yang tidak saya tinggalkan ini adalah OSIS. Tujuan saya ikut itu untuk mendapat pengalaman berorganisasi dan agar bisa menjawab di formulir 'pernah masuk organisasi...?' Hehe. Ga deng, iya sih.
Singkat cerita, dikarenakan kesibukan organisasi ini yang luar biasa, membuat saya kurang dekat dengan teman sekelas tak terkecuali teman bangku saya. Saya akui saya baru benar-benar dekat dengan teman bangku saya saat semester 2 dan butuh waktu untuk membuat dia percaya dengan saya hiks.
Saya ingat kejadian ulangan Matematika. Saat itu sekolah saya masih menggunakan kurikulum 2013 atau K-13. Kebetulan yang diprediksi, sibuknya kegiatan organisasi (dulunya) membuat jadwal belajar saya agak kacau. Sampai-sampai saya gak bisa mengerjakan soal ulangan. Saya pun mencoba jalur yang miring yaitu dengan menyontek. Sudah tahu kan teman bangku saya ini anak yang pintar dan otak encer? Tentu saja pasti dia bisa mengerjakan soal dengan lancar. Saya menolehkan kepala saya kepada dirinya. Tebak apa yang terjadi pemirsa? Dia mengambil buku tulis dan menutup wajah dan lembar jawabannya sambil menulis. Membuat batasan agar mata saya tidak bisa melihat jawabannya. Sudah dapat diketahui nilai saya dan nilai dia bagaimana. Ya, saya mendapat nilai yang jauh dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sedangkan teman bangku saya ini jauh diatas KKM 😊
Masa kelas 1 yang indah, bukan? Sampai sekarang kalau saya bercerita tentang itu, kami berdua hanya tertawa geli mengenai betapa pelitnya teman bangku saya ini. Tapi memberi saya motivasi agar belajar dengan giat.
Jumat, 24 Juni 2016
Kehidupan Kelas 10 : Bagian 1
Menjadi anak baru di SMA sendiri di antara anak-anak baru. Maksudnya adalah saya tidak memiliki teman dari SMP maupun SD yang bersekolah di SMA saya. Itu sangat pantas karena saya berasal dari sekolah di lain provinsi. Otomatis, saya harus mencari teman yang benar-benar baru.
Di mulai saat pra-MOS (Masa Orientasi Siswa), seorang siswi perempuan yang satu gugus dengan saya mengenalkan dirinya. Akhirnya kami duduk bersama selama MOS. MOS yang saya ikuti berbeda karena memasuki bulan puasa. Jadi saya mengikuti pra-MOS selama 2 hari lalu Peskil (Pesantren Kilat) kira-kira 3 hari, kemudian dilanjutkan dengan MOS selama 3 hari. Saat peskil saya berpisah dengan teman pertama saya ini, karena kelas Peskil dibagi menjadi 3 yaitu kelas A, B, dan C. Saya ditempatkan di kelas A, sedangkan dia di kelas C. Untungnya, ia memiliki teman di kelas A dan mengenalkan temannya itu kepada saya. Akhirnya saya duduk bersama teman kedua saya ini yang ternyata tidak bosan duduk selama 2 tahun bersama saya. Ya, itulah awal perkenalan saya dengan sahabat saya di SMA.
Pertama-tama, saya dan sahabat saya ini masih canggung dan berbicara dengan logat yang sopan. Dia agak tertutup untuk orang yang baru dia kenal, kurang lebih sama seperti diri saya saat itu. Oh ya pengalaman terunik dan lucu bagi kami berdua adalah saat peskil. Waktu itu saya sangat takut naik ojek, saya juga belum bisa mengendarai sepeda motor. Alhasil saya harus diantar-jemput. Namun, hari itu tidak ada yang bisa menjemput saya. Sahabat saya ini sudah ingin pulang dengan ojek tapi saya melarang dia. Saya memberi tahu dia bahwa saya takut naik ojek karena tampang supir ojek sangat menakutkan. Sahabat saya ini orang yang baik, dia lebih mementingkan orang lain dibanding dirinya. Akhirnya kami berjalan kaki bersama di tengah teriknya matahari di bulan puasa. Iya, berjalan kaki! Dan jarak dari rumah ke sekolah itu sekitar 2 km. Oh ya, rumah kami saat itu memang berdekatan. Di tengah perjalanan, kami saling berbagi cerita yang membuat kami semakin dekat. Peskil pun berakhir, saya memang satu gugus dengan sahabat saya tapi berbeda bangku. Saya kembali duduk dengan teman pertama saya dan menjalani MOS. Saya ingat saat hari terakhir MOS, kami pulang jam 5 sore yang membuat hampir seluruh siswa kelas 10 komplain tapi apalah daya kami, seorang guru yang sekaligus pembina osis mengatakan tidak usah komplain karena ini adalah hal yang sekali seumur hidup. Setelah MOS selesai, pembagian kelas diumumkan. Ternyata teman saya memilih kelas IIS atau IPS sedangkan saya memilih kelas MIA atau IPA. Sejak saat itulah kami terpisah dan apabila ketemu mungkin hanya bertegur sapa.
Sahabat saya kala itu memberi tahu saya bahwa dia memilih jurusan MIA yang sama seperti saya. Saya membuatnya berjanji apabila kami di kelas yang sama, saya dan dia harus duduk bersama. Dia adalah tipe anak yang berjanji apabila bisa ia tepati dan tidak akan berjanji apabila tidak mampu atau ingin. Masa-masa kelas 1 pun dimulai dengan saya dan sahabat saya ini duduk di kelas X MIA 2.
Dan dibangku paling belakang *gubrak*
See you tomorrow!
Kamis, 23 Juni 2016
Awal mula masuk SMA
Awalnya masuk SMA saya sendiri itu agak sedih ya, karena sekolah saya agak terpencil dan paling jauh (juga bukan favorit). Kadang bahkan orang-orang bertanya "Hah, dimana SMA kamu?" " Saya ga nyangka SMA kamu itu ada". Rasanya tuh nyakko alias nyesek. Tapi mau gimana lagi, saya pindahan dari luar Provinsi walaupun memang saya lahir di kota saya sekarang tapi saya SD dan SMP di provinsi lain. Saat mendaftar, saya harus ikut jalur PPDB Online sebagai angkatan percobaan (yang sampai sekarang PPDB Online masih berjalan). Saya ingin masuk sekolah favorit di kota saya sekarang, tapi apalah daya kuota hanya 2% untuk anak daerah dan provinsi lain dengan nilai tertinggi yang lolos dan saya tidak termasuk dari 2% tersebut. Alhasil saat pengumuman, saya bingung bahkan menangis gak tau akan sekolah dimana. Akhirnya, tetangga Om dan Tante saya yang mana guru (juga wakasek) di SMA saya sekarang menawarkan saya untuk masuk. Saya hanya perlu mengumpulkan berkas saya ke beliau juga wawancara di SMA tersebut. Beliau termasuk guru yang tegas dan disegani di sekolah saya, itulah mengapa saya masuk dengan lancar. Ya, banyak yang berpikir saya 'Letjen (lewat jendela)' dsb. Saya akui itu benar, tapi saya tidak membayar uang satu rupiah pun saat masuk di SMA saya.
Kesan pertama saat masuk di SMA saya buruk. Infrastruktur jalan yang berbatu (bahkan sampai sekarang), apabila hujan jalan berbatu akan licin, karena sekolah saya saat itu belum di paving block maka saat cerah akan berdebu dan hujan akan becek. Pokoknya saya gak betah sekolah. Saat MOS banyak teman-teman yang heran mengapa saya mau masuk di SMA saya ini. Apalagi ketika tahu kalau saya cukup bisa dalam pelajaran, mereka berkata "Kenapa sekolah disini? Kamu salah sekolah" dsb. Dulu saya berpikir itu benar. Saat saya masuk pun saya membuat orang tua saya berjanji untuk memindahkan saya sekolah di SMA favorit yang saya idamkan walau pun gak terjadi karena saya sudah terlanjur suka dengan sekolah dan teman-teman saya disini. Akhirnya setelah 6 bulan bersekolah, saya memutuskan untuk tidak pindah. Banyak faktor yang membuat saya untuk tidak jadi pindah sekolah diantaranya finansial, jauhnya jarak SMA favorit tsb dari rumah saya, harus beradaptasi lagi, meninggalkan teman-teman dekat saya disini khususnya teman bangku saya yang sudah saya anggap sahabat sendiri karena dia telah banyak membantu dan menemani saya dikala senang atau pun sedih (saya duduk dengan dia selama kelas 1 dan 2 SMA). Saya pun tidak jadi pindah dan di kelas 1 SMA inilah yang membuat saya 180° berbeda dari diri saya saat SMP. See you tomorrow for next part!
Selasa, 07 Juni 2016
Kuliah? Kayaknya masih lama kok..
Itulah yang dipikirkan anak SMA kelas 1, 2 bahkan kelas 3. Persepsi kalian salah besar. Justru di masa-masa SMA ini penentuan akan kemana kalian melanjutkan kehidupan, apakah itu kuliah di PTN, kuliah di luar negeri, kerja, gap year (tahun kosong maksudnya kalian yang lulus SMA nggak langsung kuliah namun kerja, travelling, dsb), atau pun bahkan menikah. Itu sih terserah kalian sendiri. Sekarang ini saya sudah naik kelas 3, tapi saya akan mengambil gap year alias tahun kosong itu lebih dulu dengan Insya Allah mengikuti program pertukaran pelajar. Dengan begitu terhitung dari sekarang saya memiliki waktu 2 tahun lagi dibangku SMA. Masih lama untuk mikirin kuliah? Nggak. Justru sekarang saya pusing dengan sistem perkuliahan. Sekarang saya sudah memiliki tujuan masuk di PTN Favorit saya dan Jurusan yang saya inginkan. Saya nggak sabar untuk kuliah tapi saya merasa tidak pantas karena kurangnya kesiapan saya. Maka dari itu ini tips saya bagi yang memantapkan hati melanjutkan kuliah khususnya di PTN. Tipsnya saya tulis setelah banyak membaca artikel-artikel di internet maupun tips dari mahasiswa PTN favorit. Here we go:
TIPS LOLOS SBMPTN
1. Fokus SBMPTN daripada UN
Seperti yang kita tahu, setiap tahunnya, kelulusan UN meningkat sampai 98% bahkan mulai tahun ini, Bapak Menteri Pendidikan Anies Baswedan menyebutkan bahwa "UN bukan lagi penentu kelulusan" yang berarti semua siswa pasti lulus SMA tentunya dengan syarat-syarat lebih spesifik seperti kehadiran dsb. Saya pernah mendengar tingkat kesulitan SBMPTN adalah UN^3 . Alias 3 kali lebih sulit dari UN! Untuk itu sebaiknya fokus mempelajari SBMPTN yang tentunya apabila telah dikuasai pastilah UN is just a piece of cake!
2. Belajar, belajar, belajar!!!
Kalian pasti tidak bisa berada dibangku SMA apabila kalian tidak belajar. Orang malas (di sekolah) sekali pun pasti pernah belajar! Ya iyalah namanya aja pelajar. Namun untuk mengikuti ujian khususnya SBMPTN kalian perlu mengatur waktu dengan baik. Saya pernah membaca bahkan kakak-kakak mahasiswa baru PTN sanggup belajar sampai jam 3 pagi. Bahkan bolos sekolah (untuk yang kelas 3) hanya untuk belajar SBMPTN. Memang kalian akan merasakan penat atau lelahnya belajar tapi yakinlah kalian mendapatkan kemanisan atau keberhasilan setelahnya. Manjadda Wa Jaddah! Siapa yang bersungguh-sungguh, dia yang akan berhasil.
3. Jangan mengandalkan SNMPTN
Ini pengalaman kakak-kakak kelas 3 yang hanya fokus UN dan tidak belajar untuk SBMPTN maupun ujian mandiri. Alhasil, mereka tidak lolos SNMPTN dan kelabakan untuk belajar materi SBMPTN yang rumit. Memang benar halnya, walau pun saya belum pernah mengalami rangkaian tes masuk PTN, kita tidak bisa mengandalkan jalur undangan alias SNMPTN ini. Logikanya seperti, kita berfikir untuk lulus melalui lotri yakni tanpa usaha yang saingannya ribuan! Memang SBMPTN juga ribuan bahkan lebih banyak, tapi jika kalian telah siap tiket lulus di SBMPTN sangat dekat digenggaman.
4. Jangan pikir apa yang orang lain katakan
Mungkin sekarang kalian merasa tidak ada apa-apanya. Banyak yang merasakan hal ini karena merasa kurang mampu, tidak berprestasi, tidak mendapat peringkat di kelas, atau pun berasal dari SMA biasa (bukan favorit). Pasti akan ada saja yang mengejek kalian dengan salah satu faktor di atas. Jangan putus asa atau sakit hati! Buat mereka yang mengejek kalian tercengang yaitu kembali ke poin 2 dengan belajar, belajar, belajar! Kalian pasti kepikiran dengan ejekan mereka, tapi itu hal yang lumrah kok. Maka dari itu tunjukan ke mereka bahwa kalian bisa. Hasilnya memang belum terlihat sekarang tapi tunjukan ke mereka hasilnya kemudian. Semangat!
5. Niat, Keyakinan, Usaha, dan Doa
Last but not least, Niat. Ini hal yang penting. Niat itu bagaikan fondasi, tanpa fondasi semua akan hancur. Dengan niat kita akan lebih mudah dan mantap untuk mengerjakan dan mengejar cita-cita. Dan apakah kalian percaya dengan kekuatan keyakinan? Yup, apabila kalian yakin atau percaya dengan sesuatu pastilah akan terwujud namun harus dibarengi dengan usaha dan doa. Banyak orang yang pesimis, tapi karena adanya keyakinan di lubuk hati mereka, apa yang mereka yakinkan terjadi. Kita boleh optimis atau percaya diri tentang apa yang akan kita dapatkan. Tapi jangan berlebihan. Segala sesuatu hal yang berlebihan hanya membawa sakit hati. Maka dari itu untuk mewujudkan harapan dilakukan dengan doa. Doa sangat mujarab karena semakin kita berdoa dan berusaha untuk apa yang kita inginkan, maka apa yang kita inginkan semakin dekat juga. Doa adalah tempat kita berharap, berkeluh kesah, meminta permohonan dsb karena doa merupakan komunikasi dengan Tuhan. Niat sebagai fondasi, usaha sebagai tembok/batu-bata, keyakinan sebagai cat, dan doa sebagai atap. Dengan itu semua maka rumah/hal yang diinginkan akan tercapai.
Sekian tips dari saya, tanpa niat, usaha, keyakinan, dan doa, apa yang diharapkan tidak sesuai yang diharapkan. Maka dari itu ke-4 pilar tersebut tidak bisa terpisah. Semangat para pejuang SBMPTN, semoga lulus di PTN Favorit dan mencapai cita-cita yang membanggakan orang tua, keluarga, teman, dam nusa dan bangsa.
Salam,
Andi Annisa TR
(Harapan penulis: semoga saya bisa mengaplikasikan apa yang telah saya tulis dan dapat berguna bagi para pembaca ☺)